PEACE & SAFETY SUDDEN DESTRUCTION

 MORNING WORSHIP, Sunday, March 22, 2026.

1Th 5:3  For when they shall say, Peace and safety; then sudden destruction cometh upon them, as travail upon a woman with child; and they shall not escape.

1 Thess 5:3

Jadi kedatangan Tuhan Yesus itu seperti pencuri dan pencuri itu dia tidak bilang kapan dia mau datang, tetapi kita tau dia datangnya, waktu sudah gelap.

Gelap melambangkan kemerostan moral; mangkanya Tuhan meluputkan umatnya at midnight.

Dan dia akan datang, waktu orang bilang peace and safety.

Disaat mereka bilang damai dan aman, langsung ada kebinasaan, itu tanda yang Tuhan Yesus berikan.

Dan kita harus mengerti itu, karna Alkitab itu adalah instruksi yang patut kita patuhi.

Kita belajar itu untuk mengetahui instruksinya; dan hanya mengerti instruksinya yang akan luput dari kematian kekal.

Sementara Adam dan Hawa mereka tidak ikut instruksi, sehingga mereka diusir keluar, untuk kembali ke taman Eden, perlu untuk ikut instruksi.

Kita belajar Alkitab untuk mengalami kehidupan orang-orang di Alkitab yang benar benar dan diselamatkan.

Orang-orang yang selamat itu adalah orang yang menghidupkan kebenaran itu, tidak cukup untuk tau yang benar, tetapi perlu tau yang benar untuk dihidupkan.

Perlu bilang itu, supaya tidak jadi bodoh, tetapi the foolish virgins itu hasil pilihan sendiri; karna mereka tau apa yang benar dan suka apa yang benar, tetapi mereka tidak bikin.

Padahal dengan bikin, itu buktinya ada iman.

Disaat bilang damai dan sejahtera, tiba-tiba, tiba destruction.

Dunia protestan percaya bahwa akan ada masa damai 1000 tahun dan antar sebelum dan setelah 1000 tahun ada peristiwa yang terjadi.

Sebelum 1000 tahun ada secret rapture, dimana yang diselamatkan hanya orang-orang Kristen saja.

Lalu dia akan datang lagi, lalu akan menejmput orang-orang yahudi yang bertobat.

Lalu akan ada masa golden age (dan Trump bilang ini pada masa lantiknya).

Milenium mereka yang adalah masa damai 1000 tahun itu dibumi.

Dan mereka mau singkirkan orang-orang yang jahat, karna 1000 tahun itu masa damai yang hanya terdiri dari orang-orang yang baik saja.

Waktu mereka bilang peace and safety, padahal sama sekali tidak ada amannya; dan mereka tidak akan luput dari kebinasaan, karna mereka hidupnya dalam kondisi peace and safety, tidak mempersiapkan diri dalam kondisi yang hidup di masa kesukaran.


Mat 24:3  And as he sat upon the mount of Olives, the disciples came unto him privately, saying, Tell us, when shall these things be? and what shall be the sign of thy coming, and of the end of the world?

Mat 24:3 

Murid-murid menanyakan 2 hal kapan dan apa tandanya

Jawaban kapan? Tidak ada kapannya 

Yang kita perlu ketahui adalah tandanya.

Dan Tuhan Yesus akan kasih peristiwa-peristiwa yang mendahului tutup pintu sebelum tanda.

Ayat 6: Jadi sekarang kita sedang melihat perang.

Dan itu adalah salah satu tanda yang akan kita lihat sebelum tutup pintu.

Kalau ada perang apakah itu lawannya damai (peace and safety)? Iya.

Jadi bagaimana mau peace and safety, kalau lawannya perang? 

Peperangannya: Israel dan Iran.


An Iranian ayatollah appeals to the pope as war spreads across Middle East

Seorang ayatollah Iran memohon pertolongan Paus saat perang menyebar di Timur Tengah.

Jadi iran sedang tolong (appeal) kepada Paus.



Peres: Pope Francis is only leader respected enough to end today's wars
Peres: Paus Fransiskus adalah satu-satunya pemimpin yang cukup dihormati untuk mengakhiri perang-perang saat ini.


Sebelum Netanyahu:

Shimon Peres "mantan perdana menteri"

Iran bilang: Kalau mau damai harus ikut sertakan Paus.


Damai, damai ini pendamainya adalah Paus (inilah damai dan sejahteranya).



Pope escalates call for ceasefire in Iran by addressing those responsible for the war
Pope Leo XIV has urged a ceasefire in the Middle East and called on leaders in the Iran war to reopen talks
Paus meningkatkan seruan gencatan senjata di Iran dengan menyapa pihak-pihak yang bertanggung jawab atas perang tersebut.
Paus Leo XIV telah mendesak gencatan senjata di Timur Tengah dan menyerukan kepada para pemimpin dalam perang Iran untuk membuka kembali pembicaraan.

Paus bilang harus ada damai di timur tengah, dan yang minta damai adalah Iran.
Dan Israel bilang untuk ada damai, minta Paus.
peace and safety, and then sudden destruction.

Dunia sedang minta tolong kepada Paus untuk membawa damai di dunia.


Rev 16:7 last plagues.

Rev 16:13  And I saw three unclean spirits like frogs come out of the mouth of the dragon, and out of the mouth of the beast, and out of the mouth of the false prophet.

Rev 16:13 ada 3 katak:

1. Dragon - 10 kings/10 horn/all the kings of the earth.

2. Beast - Paus (Roman Power).

3. False Prophets -  Apostate protestanism.

Dan ada 3 unclean spirits yang keluar dari mulut masing-masing.


Apa yang keluar dari mulut?

Rev 12:15  And the serpent cast out of his mouth water as a flood after the woman, that he might cause her to be carried away of the flood.

Rev 12:15
Dragon keluar dari mulut water as a flood.

Apa air? yang mau menenggelamkan woman.

Apa yang Dragon bilang:

(ditaman Eden)

Hath God said?

Ye shalt not surely die.

Itu semua adalah doktrin palsu.


Rev 13:11  And I beheld another beast coming up out of the earth; and he had two horns like a lamb, and he spake as a dragon.

Rev 13:11

Beast itu adalah Amerika.

2 Horns: Lamb (berdasarkan prinsip Alkitab).

Spake as a Dragon (artinya apakah Amerika akan bicara sebagaimana setan bicara di taman Eden?)


Rev 12:15  And the serpent cast out of his mouth water as a flood after the woman, that he might cause her to be carried away of the flood.

Rev 12:15

Dragon keluar dari mulut water as a flood.

Mulai di taman Eden.

Dan Amerika akan mengikuti cara setan di taman Eden.


Rev 12:17  And the dragon was wroth with the woman, and went to make war with the remnant of her seed, which keep the commandments of God, and have the testimony of Jesus Christ.

Rev 12:17 
Dragon marah terhadap gereja dan akan make war terhadap remnant of her seed.

Artinya mereka punya cara perangnya ialah apa yang keluar dari mulut.


The “speaking” of the nation is the action of its legislative and judicial authorities. By such action it will give the lie to those liberal and peaceful principles which it has put forth as the foundation of its policy. The prediction that it will speak “as a dragon” and exercise “all the power of the first beast” plainly foretells a development of the spirit of intolerance and persecution that was manifested by the nations represented by the dragon and the leopardlike beast. And the statement that the beast with two horns “causeth the earth and them which dwell therein to worship the first beast” indicates that the authority of this nation is to be exercised in enforcing some observance which shall be an act of homage to the papacy. GC 442.1

“Ucapan” bangsa itu adalah tindakan dari otoritas legislatif dan yudisialnya. Melalui tindakan tersebut, bangsa itu akan mengingkari prinsip-prinsip liberal dan damai yang telah dikemukakannya sebagai dasar kebijakannya. Ramalan bahwa bangsa itu akan berbicara “seperti naga” dan menggunakan “semua kekuatan binatang pertama” dengan jelas meramalkan perkembangan semangat intoleransi dan penganiayaan yang dimanifestasikan oleh bangsa-bangsa yang diwakili oleh naga dan binatang seperti macan tutul. Dan pernyataan bahwa binatang bertanduk dua “menyebabkan bumi dan penduduknya menyembah binatang pertama” menunjukkan bahwa otoritas bangsa ini akan digunakan untuk menegakkan suatu praktik yang merupakan tindakan penghormatan kepada kepausan. GC 442.1

GC 442.1
Setan akan berbicara melalui badan congress dan badan-badan supreme court.
jadi umat Tuhan akan diperangi melalui undang-undang gereja yang memboncengi gereja.


Ada Amerika, Ada Kepausan (First Beast), dan kita akan lihat DRAGON (Spiritisme).
Artinya gereja akan memerangi umat Tuhan melalui badan congress dan supreme court.



Rev 16:14  For they are the spirits of devils, working miracles, which go forth unto the kings of the earth and of the whole world, to gather them to the battle of that great day of God Almighty.

Rev 16:14

Roh-roh Iblis ini akan pergi ke raja-raja dunia (representative daripada Dragon) dan ke seluruh dunia (penduduknya) untuk mengumpulkan semua dan memerangi umat Tuhan (ayat 16), dan semua akan dikumpulkan untuk gather togather di tempat yang namanya Armagedon (inilah nama peperangannya).

3 Spirits: Beast, Dragon, False Prophets akan mempengaruhi raja-raja dunia dan mempengaruhi seluruh bumi untuk terlibat dalam peperangan Armagedon.

Amerika adalah salah satu yang akan memerangi umat Tuhan.


Rev 16:19  And the great city was divided into three parts, and the cities of the nations fell: and great Babylon came in remembrance before God, to give unto her the cup of the wine of the fierceness of his wrath.

Rev 16:19 

Dan kota Babylon itu terdiri dari 3 parts: Apostate Protestan America (False Prophet), Roman Power (Beast), Spiritisme (Dragon).

Nanti kita akan lihat : APA NAMA PEPERANGAN INI?



“Trump Has Been Anointed by Jesus” to Wage War on Iran: U.S. Commanders Accused of Promoting Holy War
“Trump Telah Diurapi oleh Yesus” untuk Melancarkan Perang terhadap Iran: Komandan AS Dituduh Mempromosikan Perang Suci

Trump diurapi Tuhan Yesus untuk mengadakan peperangan terhadap Iran.
Dan mereka bilang ini peperangan adalah HOLY WAR.
Ini adalah bagian APOSTATE PROTESTANISM AMERICA.
Jadi ini soal agama; dan apakah ujung-ujungnya adalah THE REMNANT.
Dia sedang mengumpulkan raja-raja dunia dan penduduk bumi untuk melakukan perang Armageddon.


Military Leaders Say Iran War Is So Trump Can Bring About "Armageddon"
Para pemimpin militer mengatakan perang Iran dilakukan agar Trump dapat mewujudkan "Armageddon".

Iran adalah batu loncatan untuk perang Armageddon.
Kita sudah mau masuk masa kesukaran, dan di masa kesukaran perlu untuk tidak kedapatan 1 cacat nodapu (jangan sampai kedapatan unready - GC 594.1).
 
Babylon ada 3 bagian:
1.Amerika (Spiritisme)
2.Vatikan (Spiritisme - orang mati ke purgatori)
3.Spiritisme

Amerika dan Paus itu temanan.

Artinya waktu Amerika serang Iran, lalu minta tolong Paus.

Sementara Paus dan Amerika adalah teman.

Apakah Paus dibalik peperangan ini?

Bisa gak Iran minta tolong kepada Roma, kalau Roma adalah salah satu dari 3 bagian yang mana salah satunya juga adalah Amerika?

Apakah Vatikan dibalik perang ini?

Semua perang dibelakangnya adalah Jesuit.

Pertanyaannya: WHAT ARE WE DOING NOW?

Through the two great errors, the immortality of the soul, and Sunday sacredness, Satan will bring the people under his deceptions. While the former lays the foundation of Spiritualism, the latter creates a bond of sympathy with Rome. The Protestants of the United States will be foremost in stretching their hands across the gulf to grasp the hand of Spiritualism; they will reach over the abyss to clasp hands with the Roman power; and under the influence of this threefold union, this country will follow in the steps of Rome in trampling on the rights of conscience. GC88 588.1

Melalui dua kesalahan besar, yaitu keabadian jiwa dan kesucian hari Minggu, Setan akan menjerumuskan orang-orang ke dalam tipu dayanya. Kesalahan pertama meletakkan dasar Spiritualisme, sedangkan kesalahan kedua menciptakan ikatan simpati dengan Roma. Umat Protestan di Amerika Serikat akan menjadi yang terdepan dalam mengulurkan tangan mereka melintasi jurang untuk meraih tangan Spiritualisme; mereka akan menjangkau melintasi jurang untuk bergandengan tangan dengan kekuasaan Romawi; dan di bawah pengaruh persatuan tiga serangkai ini, negara ini akan mengikuti jejak Roma dalam menginjak-injak hak-hak hati nurani. GC88 588.1

GC88 588.1

2 cabang yang ada ranting-rantingnya.

Setan akan menipu banyak orang dengan 2 hal ini.

Immortality of the soul (Dragon - Spiritualism) dan Sunday sacredness (Beast - Roman Power).

 Apostate Protestanism America yang mana? False Prophets akan mengikuti Dragon dan Beast.

Prostetan punya salah pengertian terhadap Israel yang membuat mereka menolong Israel, sementara Israel adalah Inward Israel (Jews) BUKAN Outward Israel (Jews).

Israel: Those Who Overcomers bukan orang-orang Israel di Timur tengah.


Dragon, Beast, False Prophets adalah 3 FOLDS UNION.


Iran minta pertolongan dari Kepausan.

Dan di zaman Shimon Peres (Israel): minta pertolongan dari Kepausan.


Chapter 35—Character and Aims of the Papacy

Romanism is now regarded by Protestants with far greater favor than in former years. In those countries where Catholicism is not in the ascendency, and the papists are taking a conciliatory course in order to gain influence, there is an increasing indifference concerning the doctrines that separate the reformed churches from the papal hierarchy; the opinion is gaining ground, that, after all, we do not differ so widely upon vital points as has been supposed, and that a little concession on our part will bring us into a better understanding with Rome. The time was when Protestants placed a high value upon the liberty of conscience which has been so dearly purchased. They taught their children to abhor popery, and held that to seek harmony with Rome would be disloyalty to God. But how widely different are the sentiments now expressed. GC88 563.1

Bab 35—Karakter dan Tujuan Kepausan 

Katolik Roma kini dipandang oleh kaum Protestan dengan jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Di negara-negara di mana Katolik tidak berkuasa, dan kaum Katolik mengambil jalan damai untuk mendapatkan pengaruh, terdapat peningkatan ketidakpedulian terhadap doktrin-doktrin yang memisahkan gereja-gereja reformasi dari hierarki kepausan; pendapat semakin menguat bahwa, bagaimanapun juga, kita tidak berbeda jauh dalam hal-hal penting seperti yang telah diduga, dan bahwa sedikit konsesi dari pihak kita akan membawa kita pada pemahaman yang lebih baik dengan Roma. Dahulu, kaum Protestan sangat menghargai kebebasan hati nurani yang telah diperoleh dengan susah payah. Mereka mengajari anak-anak mereka untuk membenci kepausan, dan berpendapat bahwa mencari keselarasan dengan Roma akan menjadi pengkhianatan kepada Tuhan. Tetapi betapa berbedanya sentimen yang diungkapkan sekarang. GC88 563.1

LIBERTY OF CONSCIENCE THREATENED: (Kebebasan Hati Nurani sedang Terancam - yang terancam ialah hak asasi manusia, yang dulu diperolehnya dengan tumpah duruh; sementara Tuhan menciptakan manusia dengan memberikan hak memilih; salah pilih - THOU SHALT SURELY DIE).


GC88 563.1

Romanism sangat di regard oleh Protestanism dibanding dengan dahulu kala.

Protestan sekarang lebih akur.

Papacy ini, mereka mau berdamai, agar bisa memperoleh pengaruh.

Jadi berdamai untuk menguasai.

Kalau kita kompromi sedikit, akan membantu luka parah sembuh.

Dulu Protestan menghargai sangat tinggi kebebasan hati nurani kita yang diperoleh melalui tumpah darah oleh Kepausan.

Dulu Protestan America mengajari anak-anaknya untuk membenci Kepausan yang dulu menganiaya mereka, dan kalau mau bersatu dengan Kepausan = berkhianat kepada God.


Sekarang Apostate Protestanism America berubah dengan dulu.

Kalau dia tidak berkuasa, apakah dia peacemakersnya?

Sekarang diminta untuk mendamaikan perang?

Mereka sudah lupa BERDASARKAN APA AMERIKA DI DIRIKAN!


Apakah kita perlu minta kepada Paus untuk ada kebebasan beragama? TIDAK!


Pope Leo to receive Liberty Medal for promoting religious liberty

Paus Leo akan menerima Medali Kebebasan atas jasanya dalam mempromosikan kebebasan beragama.

Paus menerima LIBERTY MEDAL.

Disaat peace, peace, SUDDEN DESTRUCTION.

1st AMENDMENT to the UNITED STATE CONSTITUTION:


The First Amendment to the U.S. Constitution (ratified 1791) protects five fundamental freedoms: religion, speech, press, assembly, and petition. It prohibits government censorship and restrictions, including establishing an official religion (Establishment Clause) or interfering with religious practice (Free Exercise Clause). While broad, these rights are not absolute, excluding categories like obscenity, defamation, and incitement to violence, and generally apply to government actors, not private employers.

Amandemen Pertama Konstitusi AS (diratifikasi tahun 1791) melindungi lima kebebasan mendasar: beragama, berbicara, pers, berkumpul, dan mengajukan petisi. Amandemen ini melarang sensor dan pembatasan pemerintah, termasuk penetapan agama resmi (Klausul Pendirian Agama) atau campur tangan dalam praktik keagamaan (Klausul Kebebasan Beragama). Meskipun luas, hak-hak ini tidak mutlak, tidak termasuk kategori seperti kecabulan, pencemaran nama baik, dan hasutan untuk melakukan kekerasan, dan umumnya berlaku untuk aktor pemerintah, bukan pengusaha swasta.

Ada 5 items kebebasan setiap manusia: beragama, berbicara, berita, berkumpul dan pendapat.


ENCYCLICAL daripada POPE LEO:

HUMAN LIBERTY.
KEBEBASAN MANUSIA.

infrequently they deal with the same objects, though in different ways. Whenever this occurs, since a state of conflict is absurd and manifestly repugnant to the most wise ordinance of God, there must necessarily exist some order or mode of procedure to remove the occasions of difference and contention, and to secure harmony in all things. This harmony has been not inaptly compared to that which exists between the body and the soul for the well-being of both one and the other, the separation of which brings irremediable harm to the body, since it extinguishes its very life.

Jarang sekali mereka berurusan dengan objek yang sama, meskipun dengan cara yang berbeda. Kapan pun ini terjadi, karena keadaan konflik adalah absurd dan jelas bertentangan dengan ketetapan Tuhan yang paling bijaksana, maka harus ada suatu tatanan atau cara prosedur untuk menghilangkan penyebab perbedaan dan perselisihan, dan untuk menjamin harmoni dalam segala hal. Harmoni ini tidak salah jika dibandingkan dengan harmoni yang ada antara tubuh dan jiwa demi kesejahteraan keduanya, yang pemisahannya membawa bahaya yang tidak dapat diperbaiki bagi tubuh, karena memadamkan kehidupannya sendiri.

To make this more evident, the growth of liberty ascribed to our age must be considered apart in its various details. And, first, let us examine that liberty in individ-uals which is so opposed to the virtue of religion, namely, the liberty of worship, as it is called. This is based on the principle that every man is free to profess as he may choose any religion or none.

Untuk memperjelas hal ini, pertumbuhan kebebasan yang dikaitkan dengan zaman kita harus dipertimbangkan secara terpisah dalam berbagai detailnya. Dan, pertama-tama, mari kita periksa kebebasan individu yang sangat bertentangan dengan kebajikan agama, yaitu kebebasan beribadah, sebagaimana disebut. Ini didasarkan pada prinsip bahwa setiap orang bebas untuk menganut agama apa pun yang dipilihnya atau tidak menganut agama sama sekali.

But, assuredly, of all the duties which man has to fulfil, that, without doubt, is the chiefest and holiest which commands him to worship God with devotion and piety. This follows of necessity from the truth that we are ever in the power of God, are ever guided by His will and provi-dence, and, having come forth from Him, must return to Him. Add to which no true virtue can exist without religion, for moral virtue is concerned with those things which lead to God as man's supreme and ultimate good; and therefore religion, which (as St. Thomas says) "per-forms those actions which are directly and immediately ordained for the divine honor," rules and tempers all virtues. And if it be asked which of the many conflicting religions it is necessary to adopt, reason and the natural law unhesitatingly tell us to practise that one which God enjoins, and which men can easily recognize by certain exterior notes, whereby divine Providence has willed that it should be distinguished, because, in a matter of suchmoment, the most terrible loss would be the consequence of error. Wherefore, when a liberty such as We have described is offered to man, the power is given him to pervert or abandon with impunity the most sacred of duties, and to exchange the unchangeable good for evil; which, as We have said, is no liberty, but its degradation, and the abject submission of the soul to sin.

Namun, sudah pasti, dari semua kewajiban yang harus dipenuhi manusia, tanpa diragukan lagi, kewajiban yang paling utama dan paling suci adalah kewajiban untuk menyembah Tuhan dengan penuh pengabdian dan kesalehan. Hal ini secara otomatis mengikuti kebenaran bahwa kita selalu berada dalam kuasa Tuhan, selalu dibimbing oleh kehendak dan pemeliharaan-Nya, dan, setelah berasal dari Dia, harus kembali kepada-Nya. Ditambah lagi, tidak ada kebajikan sejati yang dapat ada tanpa agama, karena kebajikan moral berkaitan dengan hal-hal yang mengarah kepada Tuhan sebagai kebaikan tertinggi dan utama manusia; dan karena itu agama, yang (seperti yang dikatakan Santo Thomas) "melakukan tindakan-tindakan yang secara langsung dan segera ditetapkan untuk kemuliaan ilahi," mengatur dan membentuk semua kebajikan. Dan jika ditanya agama mana dari sekian banyak agama yang saling bertentangan yang perlu dianut, akal sehat dan hukum alam tanpa ragu memberi tahu kita untuk mempraktikkan agama yang diperintahkan Tuhan, dan yang dapat dengan mudah dikenali manusia melalui ciri-ciri eksternal tertentu, di mana Pemeliharaan Ilahi telah menghendaki agar agama itu dibedakan, karena, dalam hal yang sangat penting, kerugian yang paling mengerikan adalah akibat dari kesalahan. Oleh karena itu, ketika kebebasan seperti yang telah Kami uraikan ditawarkan kepada manusia, maka diberikan kepadanya kekuasaan untuk menyimpang atau meninggalkan kewajiban yang paling suci tanpa hukuman, dan untuk menukar kebaikan yang kekal dengan kejahatan; yang, sebagaimana telah Kami katakan, bukanlah kebebasan, melainkan kemerosotan dan penyerahan jiwa yang hina kepada dosa.

This kind of liberty, if considered in relation to the State,, clearly implies that there is no reason why the State should offer any homage to God, or should desire any public recognition of Him; that no one form of worship is to be preferred to another, but that all stand on an equal footing, no account being taken of the religion of the people, even if they profess the Catholic faith. But, to justify this, it must needs be taken as true that the State has no duties towards God, or that such duties, if they exist, can be abandoned with impunity, both of which assertions are manifestly false. For it cannot be doubted but that, by the will of God, men are united in civil society; whether its component parts be considered; or its form, which implies authority; or the object of its existence; or the abundance of the vast services which it renders to man. God it is who has made man for society, and has placed him in the company of others like himself, so that what was wanting to his nature, and beyond his attain-ment if left to his own resources, he might obtain by association with others. Wherefore civil society must acknowledge God as its Founder and Parent, and must obey and reverence His power and authority. Justice therefore forbids, and reason itself forbids, the State to be godless; or to adopt a line of action which would end in godlessness-namely, to treat the various religions (as they call them) alike, and to bestow upon them pro-miscuously equal rights and privileges. Since, then, the profession of one religion is necessary in the State, that religion must be professed which alone is true, and which can be recognized without difficulty, especially in Catholic.

Kebebasan semacam ini, jika dipertimbangkan dalam kaitannya dengan Negara, jelas menyiratkan bahwa tidak ada alasan mengapa Negara harus memberikan penghormatan kepada Tuhan, atau menginginkan pengakuan publik terhadap-Nya; bahwa tidak ada satu bentuk ibadah pun yang lebih diutamakan daripada yang lain, tetapi semuanya berada pada kedudukan yang sama, tanpa memperhitungkan agama rakyat, bahkan jika mereka menganut agama Katolik. Tetapi, untuk membenarkan hal ini, harus dianggap benar bahwa Negara tidak memiliki kewajiban terhadap Tuhan, atau bahwa kewajiban tersebut, jika ada, dapat diabaikan tanpa hukuman, yang mana kedua pernyataan tersebut jelas salah. Karena tidak dapat diragukan bahwa, atas kehendak Tuhan, manusia dipersatukan dalam masyarakat sipil; baik bagian-bagian penyusunnya dipertimbangkan; atau bentuknya, yang menyiratkan otoritas; atau tujuan keberadaannya; atau banyaknya layanan yang diberikannya kepada manusia. Tuhanlah yang menciptakan manusia untuk masyarakat, dan menempatkannya dalam pergaulan dengan orang lain yang serupa dengannya, sehingga apa yang kurang dalam kodratnya, dan di luar jangkauannya jika dibiarkan pada sumber dayanya sendiri, dapat diperolehnya melalui pergaulan dengan orang lain. Oleh karena itu, masyarakat sipil harus mengakui Tuhan sebagai Pendiri dan Orang Tuanya, dan harus menaati serta menghormati kekuasaan dan otoritas-Nya. Karena itu, keadilan melarang, dan akal sehat itu sendiri melarang, Negara untuk tidak beragama; atau untuk mengambil tindakan yang akan berujung pada ketidakberagamaan—yaitu, memperlakukan berbagai agama (sebagaimana mereka menyebutnya) secara sama, dan memberikan hak dan hak istimewa yang sama secara sembarangan kepada mereka. Karena itu, karena pengakuan satu agama diperlukan dalam Negara, agama yang harus dianut adalah agama yang benar, dan yang dapat dikenali tanpa kesulitan, terutama dalam agama Katolik.

Pope Leo mengambil itu untuk melanjutkan karateristik dari Pope Leo sebelumnya (Laodato Si).
Leo adalah SINGA (bintang dari kerajaan Babylon).

Protestants have tampered with and patronized popery; they have made compromises and concessions which papists themselves are surprised to see and fail to understand. Men are closing their eyes to the real character of Romanism and the dangers to be apprehended from her supremacy. The people need to be aroused to resist the advances of this most dangerous foe to civil and religious liberty. GC 566.1

Kaum Protestan telah mencampuri dan mendukung kepausan; mereka telah membuat kompromi dan konsesi yang membuat kaum Katolik sendiri terkejut dan gagal memahaminya. Orang-orang menutup mata terhadap karakter sebenarnya dari Katolik Roma dan bahaya yang dapat diwaspadai dari supremasi Katolik Roma. Rakyat perlu dibangkitkan untuk melawan kemajuan musuh yang paling berbahaya ini bagi kebebasan sipil dan beragama. GC 566.1


GC 566.1

Most Dangerous Foe terhadap kita punya religious Liberty adalah POPE yang dapat LIBERTY MEDAL.

Paus adalah musuh kebebasan beragama, tetapi diberikan liberty medal.



To make this more evident, the growth of liberty ascribed to our age must be considered apart in its various details. And, first, let us examine that liberty in individuals which is so opposed to the virtue of religion, namely, the liberty of worship, as it is called. This is based on the principle that every man is free to profess as he may choose any religion or none... Wherefore, when a liberty such as We have described is offered to man, the power is given him to pervert or abandon with impunity [without punishment] the most sacred of duties, and to exchange the unchangeable good for evil; which, as We have said, is no liberty, but its degradation, and the abject [horrible] submission of the soul to sin.

Untuk memperjelas hal ini, pertumbuhan kebebasan yang dikaitkan dengan zaman kita harus dipertimbangkan secara terpisah dalam berbagai detailnya. Dan, pertama-tama, mari kita periksa kebebasan individu yang sangat bertentangan dengan kebajikan agama, yaitu kebebasan beribadah, sebagaimana disebut. Ini didasarkan pada prinsip bahwa setiap orang bebas untuk menganut agama apa pun yang dipilihnya atau tidak menganut agama apa pun... Oleh karena itu, ketika kebebasan seperti yang telah Kami gambarkan ditawarkan kepada manusia, kekuasaan diberikan kepadanya untuk menyimpang atau meninggalkan kewajiban yang paling suci tanpa hukuman, dan untuk menukar kebaikan yang kekal dengan kejahatan; yang, sebagaimana telah Kami katakan, bukanlah kebebasan, melainkan kemerosotannya, dan penyerahan jiwa yang hina kepada dosa.

Pope Leo 13: Tidak bisa kita terima LIBERTY OF WORSHIP.
Harus dipaksa beragama, karna kalau dipaksa beragama akan menghasilkan orang-orang yang baik.
Malahan kalau dikasih kebebasan beragama akan menghasilkan orang-orang yang jahat.
This is not religion liberty!

Kenapa Paus mendapat MEDAL LIBERTY?
Kenapa ISRAEL dan IRAN ke VATIKAN untuk BEBAS dari PERANG?


What does Pope Leo XIII. command all Catholics to do? -- This: -- {1889 ATJ, CGRAS 56.4}

"All Catholics should do all in their power to cause the constitutions of States, and legislation to be modeled on the principles of the true church." {1889 ATJ, CGRAS 56.5}

Apa perintah Paus Leo XIII kepada semua umat Katolik? -- Ini: -- {1889 ATJ, CGRAS 56.4}

"Semua umat Katolik harus melakukan segala daya upaya untuk memastikan konstitusi negara bagian dan perundang-undangan didasarkan pada prinsip-prinsip gereja yang sejati." {1889 ATJ, CGRAS 56.5}


"The death sentence is a necessary and efficacious means for the Church to attain its ends when rebels against it disturb the ecclesiastical unity, especially obstinate heretics who cannot be restrained by any other penalty from continuing to disturb ecclesiastical order."

POPE LEO ΧΙΙΙ

Gioacchino Pecci

"Book of Canon Law" Preface, Volume 2 by M. de Luca, Society of Jesus 1901

"When the existence of the Church is threatened, she is released from the commandments of morality. With unity as the end, the use of every means is sanctified, even cunning, treachery, violence, simony, prison, death. For all order is for the sake of the community, and the individual must be sacrificed for the common good."

Dietrich von Nieheim Bishop of Verden De schismate libri III, AD 1411

"Hukuman mati adalah cara yang perlu dan efektif bagi Gereja untuk mencapai tujuannya ketika para pemberontak terhadapnya mengganggu persatuan gerejawi, terutama para bidat yang keras kepala yang tidak dapat dicegah dengan hukuman lain untuk terus mengganggu ketertiban gerejawi."

Paus Leo XVII

Gioacchino Pecci

Kata Pengantar "Kitab Hukum Kanonik", Jilid 2 oleh M. de Luca, Serikat Yesus 1901

"Ketika keberadaan Gereja terancam, ia dibebaskan dari perintah-perintah moralitas. Dengan persatuan sebagai tujuan akhir, penggunaan segala cara disucikan, bahkan tipu daya, pengkhianatan, kekerasan, simoni, penjara, kematian. Karena semua ketertiban adalah demi kepentingan komunitas, dan individu harus dikorbankan demi kebaikan bersama."

Dietrich von Nieheim Uskup Verden De skismate libri III, 1411 M

Apakah freedom of liberty, speech, conscious? NO!
Kecuali MARK OF THE BEAST.

Rev 13:15  And he had power to give life unto the image of the beast, that the image of the beast should both speak, and cause that as many as would not worship the image of the beast should be killed.

Rev 13:15
Kalau tidak worship IOB, dibunuh.
Nohide law: kalau bukan orang Yahudi, tidak boleh beribadah sabat.
Kalau bukan orang Yahudi asli, berbaktinya hari minggu.


POPE LEO XIV INSISTS THAT
PAUS LEO XIV BERSIKUKUH BAHWA

SABBATH REST WAS FOR ISRAEL,
ISTIRAHAT SABAT ADALAH UNTUK ISRAEL,

- BUT
- TETAPI

SUNDAY, THE LORD'S DAY, BELONGS TO US.
HARI MINGGU, HARI TUHAN, ADALAH MILIK KITA.



HOMILY OF POPE LEO XIV
KHOTBAH PAUS LEO XIV

Dear brothers and sisters,

Our Eucharistic celebration today, more than ever, is filled with joy. Indeed, the beauty of our gathering today is set against the backdrop of the Sunday known as "Laetare", meaning "rejoice", taken from the words of Isaiah: "Rejoice with Jerusalem" (Entrance Antiphon, cf. Is 66:10).

This gives us cause to reflect. At present, many of our brothers and sisters throughout the world are suffering because of violent conflicts, caused by the absurd claim that problems and differences can be resolved through war, whereas we must engage in unceasing dialogue for peace. Some even go so far as to invoke God's name in these choices of death, but God cannot be enlisted by darkness. Rather, He always comes to bestow light, hope and peace upon humanity, and it is peace that those who invoke Him must seek.

Brother dan sister terkasih,

Perayaan Ekaristi kita hari ini, lebih dari sebelumnya, dipenuhi dengan sukacita. Sesungguhnya, keindahan pertemuan kita hari ini berlatar belakang hari Minggu yang dikenal sebagai "Laetare", yang berarti "bersukacita", diambil dari kata-kata Yesaya: "Bersukacitalah bersama Yerusalem" (Antifon Pembukaan, lih. Yes 66:10).

Hal ini memberi kita alasan untuk merenung. Saat ini, banyak saudara dan saudari kita di seluruh dunia menderita karena konflik kekerasan, yang disebabkan oleh klaim absurd bahwa masalah dan perbedaan dapat diselesaikan melalui perang, padahal kita harus terlibat dalam dialog tanpa henti untuk perdamaian. Beberapa bahkan sampai menyebut nama Tuhan dalam pilihan kematian ini, tetapi Tuhan tidak dapat dimanfaatkan oleh kegelapan. Sebaliknya, Dia selalu datang untuk memberikan terang, harapan, dan kedamaian kepada umat manusia, dan kedamaian itulah yang harus dicari oleh mereka yang menyebut nama-Nya.

In the "sign", in the miracle, Jesus reveals His divine power and the man, as if retracing the gestures of creation - the mud, the saliva - once again fully reveals his beauty and dignity as a creature made in the image and likeness of God. Thus, having regained his sight, he becomes a witness to the light.

Of course, this involves a great deal of effort: he must get used to so many things previously unknown to him, learn to distinguish colours and shapes, and rebuild his relationships - and it is not easy. Indeed, the hostility surrounding him grows, provoking him, and not even his parents have the courage to defend him (cf. Jn 9:18-23). It almost seems, absurdly, as though those close to him wish to undo what has happened. Not only that: in the interrogation to which the blind man who can now see is subjected, it is above all Jesus who is put on trial, accused of having violated the Sabbath in order to heal him.

Thus, another form of blindness is revealed in those present, one that is different and even more serious: that of failing to see, right before their eyes, the face of God, for which they trade the possibility of a saving encounter for the sterile security afforded by the legalistic observance of a formal discipline. Faced with such obtuseness, Jesus does not stop, showing that no “Sabbath” canÄ«stand in the way of an act of love. After all, the meaning of the Sabbath rest for the people of Israel – and for us on Sunday, the Lord's Day – is precisely to celebrate the mystery of life as a gift, in the face of which no one can ignore the cry for help from a brother or sister who is suffering.

Dalam "tanda" itu, dalam mukjizat itu, Yesus mengungkapkan kuasa ilahi-Nya dan manusia itu, seolah-olah menelusuri kembali gerakan penciptaan—lumpur, air liur—sekali lagi sepenuhnya mengungkapkan keindahan dan martabatnya sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dengan demikian, setelah penglihatannya pulih, ia menjadi saksi terang.

Tentu saja, ini membutuhkan banyak usaha: ia harus terbiasa dengan begitu banyak hal yang sebelumnya tidak dikenalinya, belajar membedakan warna dan bentuk, dan membangun kembali hubungannya—dan itu tidak mudah. ​​Memang, permusuhan di sekitarnya semakin meningkat, memprovokasinya, dan bahkan orang tuanya pun tidak berani membelanya (bdk. Yoh 9:18-23). ​​Hampir tampak, secara absurd, seolah-olah orang-orang terdekatnya ingin membatalkan apa yang telah terjadi. Tidak hanya itu: dalam interogasi yang dialami oleh orang buta yang sekarang dapat melihat itu, terutama Yesuslah yang diadili, dituduh telah melanggar hari Sabat untuk menyembuhkannya.

Dengan demikian, bentuk kebutaan lain terungkap pada mereka yang hadir, yang berbeda dan bahkan lebih serius: yaitu kegagalan untuk melihat, tepat di depan mata mereka, wajah Tuhan, yang karenanya mereka menukar kemungkinan perjumpaan yang menyelamatkan dengan keamanan hampa yang diberikan oleh ketaatan legalistik terhadap disiplin formal. Menghadapi ketidakpekaan seperti itu, Yesus tidak berhenti, menunjukkan bahwa tidak ada "Sabat" yang dapat menghalangi tindakan kasih. Lagipula, makna istirahat Sabat bagi umat Israel – dan bagi kita pada hari Minggu, Hari Tuhan – justru untuk merayakan misteri kehidupan sebagai anugerah, di hadapan anugerah tersebut tidak seorang pun dapat mengabaikan seruan minta tolong dari saudara atau saudari yang menderita.

Kalau bukan orang Israel asli berbaktinya pada hari minggu.

Lions of the Church: The most fascinating popes named Leo
From theologians to tacticians, emperors to reformers (and provocateurs), the Leos remind us that papal power isn't always quiet, nor always humble, but is often fascinating.

Singa-Singa Gereja: Para Paus Leo yang Paling Menarik
Dari teolog hingga ahli taktik, kaisar hingga reformis (dan provokator), para Leo mengingatkan kita bahwa kekuasaan kepausan tidak selalu tenang, tidak selalu rendah hati, tetapi seringkali menarik.


Adventism and Catholicism in a Changing World
Can they learn from each other?
Adventisme dan Katolikisme di Dunia yang Berubah
Bisakah mereka belajar satu sama lain?



It was the desire for liberty of conscience that inspired the Pilgrims to brave the perils of the long journey across the sea, to endure the hardships and dangers of the wilderness, and with God's blessing to lay, on the shores of America, the foundation of a mighty nation. Yet honest and God-fearing as they were, the Pilgrims did not yet comprehend the great principle of religious liberty. The freedom which they sacrificed so much to secure for themselves, they were not equally ready to grant to others. “Very few, even of the foremost thinkers and moralists of the seventeenth century, had any just conception of that grand principle, the outgrowth of the New Testament, which acknowledges God as the sole judge of human faith.”—Ibid. 5:297. The doctrine that God has committed to the church the right to control the conscience, and to define and punish heresy, is one of the most deeply rooted of papal errors. While the Reformers rejected the creed of Rome, they were not entirely free from her spirit of intolerance. The dense darkness in which, through the long ages of her rule, popery had enveloped all Christendom, had not even yet been wholly dissipated. Said one of the leading ministers in the colony of Massachusetts Bay: “It was toleration that made the world antichristian; and the church never took harm by the punishment of heretics.”—Ibid., vol. 5, p. 335. The regulation was adopted by the colonists that only church members should have a voice in the civil government. A kind of state church was formed, all the people being required to contribute to the support of the clergy, and the magistrates being authorized to suppress heresy. Thus the secular power was in the hands of the church. It was not long before these measures led to the inevitable result-persecution. {GC 292.3}

Keinginan akan kebebasan hati nurani itulah yang menginspirasi para Pilgrim untuk menantang bahaya perjalanan panjang menyeberangi laut, untuk menanggung kesulitan dan bahaya padang gurun, dan dengan berkat Tuhan untuk meletakkan, di pantai Amerika, fondasi sebuah bangsa yang perkasa. Namun, meskipun jujur ​​dan takut akan Tuhan, para Pilgrim belum memahami prinsip besar kebebasan beragama. Kebebasan yang mereka korbankan begitu banyak untuk diamankan bagi diri mereka sendiri, mereka tidak siap untuk memberikannya kepada orang lain. “Sangat sedikit, bahkan dari para pemikir dan moralis terkemuka abad ketujuh belas, yang memiliki pemahaman yang tepat tentang prinsip agung itu, yang merupakan hasil dari Perjanjian Baru, yang mengakui Tuhan sebagai satu-satunya hakim iman manusia.”—Ibid. 5:297. Doktrin bahwa Tuhan telah mempercayakan kepada gereja hak untuk mengendalikan hati nurani, dan untuk mendefinisikan dan menghukum bidah, adalah salah satu kesalahan kepausan yang paling mengakar. Meskipun para Reformator menolak kredo Roma, mereka tidak sepenuhnya bebas dari semangat intoleransi Roma. Kegelapan pekat yang menyelimuti seluruh Kekristenan selama berabad-abad pemerintahannya, yang diselimuti oleh paham kepausan, bahkan belum sepenuhnya sirna. Salah seorang pendeta terkemuka di koloni Massachusetts Bay berkata: “Toleransi-lah yang membuat dunia anti-Kristen; dan gereja tidak pernah dirugikan oleh hukuman terhadap kaum bidat.”—Ibid., vol. 5, hlm. 335. Peraturan diadopsi oleh para kolonis bahwa hanya anggota gereja yang boleh memiliki suara dalam pemerintahan sipil. Semacam gereja negara dibentuk, di mana seluruh rakyat diwajibkan untuk berkontribusi dalam mendukung para pendeta, dan para hakim diberi wewenang untuk menekan ajaran sesat. Dengan demikian, kekuasaan sekuler berada di tangan gereja. Tidak lama kemudian, tindakan-tindakan ini menyebabkan akibat yang tak terhindarkan—penganiayaan. {GC 292.3}

Amerika dibangun berdasarkan kebebasan beragama.
Rev 13:11 Binatang yang lain yang memiliki 2 tanduk, awalnya "like a lamb", tetapi sekarang "like a dragon".

William Miller dibangkitkan untuk menyingkirkan doktrin-doktrin kepausan dari mereka.
Agar mereka bisa menerima 1st AM, 2nd AM, 3rd AM.

AntiChristian itu terjadi gara-gara toleransi.
Pope Leo 13: kalau kita kasih kebebasan, malahan jadi jahat orangnya.

Tidak pernah salah untuk paksa orang-orang menerima doktrin kita.
Hanya anggota gereja yang bisa duduk di pemerintahan - Church and State.

Dan inilah yang perlu William Miller singkirkan.

It was the desire for liberty of conscience that inspired the Pilgrims to brave the perils of the long journey across the sea, to endure the hardships and dangers of the wilderness, and with God's blessing to lay, on the shores of America, the foundation of a mighty nation. Yet honest and God-fearing as they were, the Pilgrims did not yet comprehend the great principle of religious liberty. The freedom which they sacrificed so much to secure for themselves, they were not equally ready to grant to others. “Very few, even of the foremost thinkers and moralists of the seventeenth century, had any just conception of that grand principle, the outgrowth of the New Testament, which acknowledges God as the sole judge of human faith.”—Ibid. 5:297. The doctrine that God has committed to the church the right to control the conscience, and to define and punish heresy, is one of the most deeply rooted of papal errors. While the Reformers rejected the creed of Rome, they were not entirely free from her spirit of intolerance. The dense darkness in which, through the long ages of her rule, popery had enveloped all Christendom, had not even yet been wholly dissipated. Said one of the leading ministers in the colony of Massachusetts Bay: “It was toleration that made the world antichristian; and the church never took harm by the punishment of heretics.”—Ibid., vol. 5, p. 335. The regulation was adopted by the colonists that only church members should have a voice in the civil government. A kind of state church was formed, all the people being required to contribute to the support of the clergy, and the magistrates being authorized to suppress heresy. Thus the secular power was in the hands of the church. It was not long before these measures led to the inevitable result-persecution. {GC 292.3}

Keinginan akan kebebasan hati nurani itulah yang menginspirasi para Pilgrim untuk menantang bahaya perjalanan panjang menyeberangi laut, untuk menanggung kesulitan dan bahaya padang gurun, dan dengan berkat Tuhan untuk meletakkan, di pantai Amerika, fondasi sebuah bangsa yang perkasa. Namun, meskipun jujur ​​dan takut akan Tuhan, para Pilgrim belum memahami prinsip besar kebebasan beragama. Kebebasan yang mereka korbankan begitu banyak untuk diamankan bagi diri mereka sendiri, mereka tidak siap untuk memberikannya kepada orang lain. “Sangat sedikit, bahkan dari para pemikir dan moralis terkemuka abad ketujuh belas, yang memiliki pemahaman yang tepat tentang prinsip agung itu, yang merupakan hasil dari Perjanjian Baru, yang mengakui Tuhan sebagai satu-satunya hakim iman manusia.”—Ibid. 5:297. Doktrin bahwa Tuhan telah mempercayakan kepada gereja hak untuk mengendalikan hati nurani, dan untuk mendefinisikan dan menghukum bidah, adalah salah satu kesalahan kepausan yang paling mengakar. Meskipun para Reformator menolak kredo Roma, mereka tidak sepenuhnya bebas dari semangat intoleransi Roma. Kegelapan pekat yang menyelimuti seluruh Kekristenan selama berabad-abad pemerintahannya, yang diselimuti oleh paham kepausan, bahkan belum sepenuhnya sirna. Salah seorang pendeta terkemuka di koloni Massachusetts Bay berkata: “Toleransi-lah yang membuat dunia anti-Kristen; dan gereja tidak pernah dirugikan oleh hukuman terhadap kaum bidat.”—Ibid., vol. 5, hlm. 335. Peraturan diadopsi oleh para kolonis bahwa hanya anggota gereja yang boleh memiliki suara dalam pemerintahan sipil. Semacam gereja negara dibentuk, di mana seluruh rakyat diwajibkan untuk berkontribusi dalam mendukung para pendeta, dan para hakim diberi wewenang untuk menekan ajaran sesat. Dengan demikian, kekuasaan sekuler berada di tangan gereja. Tidak lama kemudian, tindakan-tindakan ini menyebabkan akibat yang tak terhindarkan—penganiayaan. {GC 292.3}

Mantan Religious Liberty SDA:


Ganoune Diop bilang: Katolik sudah bertobat tahun 1965 (tahun kelahiran saya).

Kutipan Roh Nubuat bilang:
Padahal ROME NEVER CHANGE (GC 581.1).

A MORE SURE WORD OF PROPHECY 2026.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

THREE ENTITIES: UNDERSTANDING ROMANS 7

WHAT IS FAITH?

ADD TO YOUR FAITH